Cinderamata Kulit Yogyakarta Butuh Identitas Kuat
Keunikan Kerajinan Kulit Yogyakarta
Cendera mata khas Yogyakarta tidak hanya terbatas pada batik. Salah satu produk yang menarik perhatian adalah berbagai kerajinan berbahan dasar kulit. Produk-produk ini tersebar di sejumlah sentra, seperti di Desa Manding, Kabupaten Bantul. Meskipun memiliki keunikan dan nilai seni yang tinggi, kerajinan kulit masih kalah pamor dibandingkan batik.
Salah satu alasan utamanya adalah harga yang relatif tinggi. Selain itu, pasokan bahan baku juga sulit ditemukan. Tidak hanya itu, lokasi sentra produk kulit dinilai jauh dari tempat berkumpulnya wisatawan. Hal ini membuat daya tarik produk tersebut menjadi kurang optimal.
Menurut peneliti Fakultas Pertanian UGM, Mohammad Zainal Abidin, industri kulit di Yogyakarta sudah mampu mengekspor produk meski sebagian besar berupa olahan kulit hewan kecil, seperti kambing dan domba. Sekitar 90 persen produksinya berupa sarung tangan (gloves). Namun, industri kulit dari hewan sapi lebih kembang kempis.
Bahan baku kulit sapi untuk cendera mata masih sangat langka. Hanya 30 persen bahan baku yang berasal dari lokal, dan hanya setengahnya yang memenuhi standar kualitas industri. Masalah utama terletak pada proses pengulitan. Di Indonesia, kulit hewan masih dianggap sebagai limbah, sehingga proses pengulitan dilakukan dengan cara sederhana, menghasilkan permukaan yang berlubang-lubang.
Untuk kebutuhan penyamakan berkualitas, permukaan kulit harus bebas dari cacat. Akibatnya, banyak produk kulit Indonesia tidak digunakan untuk penyamakan karena kualitasnya tidak memenuhi syarat. Limbah kulit lebih sering digunakan untuk pembuatan gelatin atau kolagen.
Perlu adanya regulasi yang jelas untuk mengatur mana limbah kulit yang diarahkan untuk penyamakan dan cendera mata, serta mana yang digunakan sebagai bahan gelatin atau kolagen. Regulasi ini akan membantu para perajin dalam mendapatkan bahan baku yang sesuai.
Selain masalah bahan baku, pandangan masyarakat terhadap produk kerajinan kulit juga menjadi kendala. Harga cendera mata kulit masih spesifik dan jauh dari harga bahan batik. Meskipun lebih awet, produk ini kurang diminati oleh wisatawan dan pasar mancanegara.
Meskipun sektor pariwisata sangat besar di Yogyakarta, daya serap untuk produk kulit lokal masih sedikit. Untuk meningkatkan popularitas, diperlukan kebijakan yang mendukung produk lokal dan membatasi impor. Selain itu, bisa dibuat event khusus yang ditujukan untuk wisatawan lokal dan mancanegara yang sedang berada di Yogyakarta.
Pemerintah DIY mencatat bahwa Desa Manding, Kabupaten Bantul, menjadi satu-satunya desa di Yogyakarta yang masih mempertahankan keahlian kerajinan kulit hingga saat ini. Desa ini telah beroperasi sejak tahun 1957 dan menjadi pelopor ekspor produk kulit. Pesanan dari luar negeri, seperti India, Belgia, dan Australia, telah membantu perkembangan industri ini.
Desa Manding terkenal sebagai pusat kerajinan kulit yang menawarkan berbagai produk seperti tas, jaket, sepatu, dan sandal. Produk-produk ini memiliki bahan dan teknik pembuatan yang unik dan istimewa. Kerajinan kulit Manding dibuat dari kulit nabati yang diproses menggunakan teknik tatah timbul. Teknik ini memberikan keunikan tersendiri pada setiap produk yang dihasilkan.
